SATUA I SANGGING LOBANGKARA DALAM TRADISI NYASTRA

  • I Gde Agus Darma Putra Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Abstract

Makalah ini berisi analisis karya sastra yang disebut Satua. Satua tersebut dilihat berdasarkan konsep nyastra. Nyastra adalah cara meresepsi teks melalui tiga tahap yaitu wirama, wirasa dan wiraga. Satua yang dipilih dalam makalah ini adalah satua I Sangging Lobangkara. Pemilihan tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa teks I Sangging Lobangkara menceritakan sosok yang bisa mewakili eksistensi manusia dalam perspektif filosofis, terutama Hinduisme. Pembacaan satua I Sangging Lobangkara pada tahapan wirama dan wirasa menghasilkan keterbacaan teks yang koheren, persilangan pikiran serta penerjemahan bahasa dan tanda-tanda. Penokohan dalam satua I Sangging Lobangkara dilakukan dengan tekhnik campuran yakni perpaduan antara tekhnik analitik dan dramatik. Proses wiraga menghasilkan makna universal sesuai dengan hasil bacaan pembaca. Hasil pembacaan dipadukan dengan interteks menunjukkan bahwa I Sangging Lobangkara adalah cerminan manusia beserta sifat-sifatnya. Sifat manusia adalah papa, dan dalam satua I Sangging Lobangkara dituturkan cara pembebasan dari sifat tersebut melalui kisah perjalanan tokoh I Sangging Lobangkara. Kisah perjalanan yang dimaksud dibagi menjadi tiga yakni pertama petualangan ke hutan, petualangan ke laut, terakhir ialah mengetahui hakikat langit dan tidak kembali.

Downloads

Download data is not yet available.
Published
Sep 17, 2017
How to Cite
PUTRA, I Gde Agus Darma. SATUA I SANGGING LOBANGKARA DALAM TRADISI NYASTRA. Soshum : Jurnal Sosial dan Humaniora, [S.l.], v. 7, n. 1, p. 118-135, sep. 2017. ISSN 2580-5622. Available at: <http://ojs.pnb.ac.id/index.php/SOSHUM/article/view/568>. Date accessed: 21 oct. 2017.
Section
Articles